u3-9b6e085a-7d66-4cc7-90e9-a9de7c96eaac
Antara Piring dan Papan Tulis

by Eva Oktavia

 

Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di atas sawah Desa Sariasri. Daun padi basah oleh embun, sementaraayam-ayam kampung berlarian di jalan tanah yang belumpernah disentuh aspal. Di balai desa, beberapa orang tuaduduk bersila, sebagian menggenggam topi lusuh, sebagian lain memeluk map plastik berisi fotokopi KTP dan kartu keluarga.

 

Pak Karsimin duduk paling depan. Wajahnya keras, dipahat oleh matahari dan usia. Anaknya, Sarinem, kiniduduk di kelas IX SMP, sebentar lagi lulus. Namunseragamnya sudah lusuh dan memudar, serta sepatuhitamnya berlubang di ujung tumit serta menganga di bagian depan. Walau keadaan hidup begitu prihatin, pakKarsimin selalu menanamkan pada Sarinem agar tetapberjuang untuk merubah garis hidup kelak.

 

Keheningan seketika pecah saat terdengar suara lirih. “Bapak Ibu,” kata seorang petugas dari kota “pemerintah akan menjalankan Program Makan BergiziGratis. Anak-anak akan dapat makanan sehat setiaphari.” Beberapa orang tua saling pandang. Ada yang mengangguk pelan, tapi lebih banyak yang diam. PakKarsimin mengangkat tangan. “Nak,” katanya pelan tapitegas, “anak kami tidak lapar tiap hari, Kami masih bisamenanak nasi, memetik singkong, atau mencari ikan di kali.”

 

Ruangan menjadi hening. “Yang kami takutkan,” lanjutnya, “adalah hari ketika anak kami tidak bisasekolah lagi karena kami tak sanggup membayarseragam, buku, atau ongkos ke SMA di kecamatan.” Bu Surti, seorang janda dengan tiga anak, ikut bicara. Matanya berkaca-kaca. “Kalau hanya soal makan, kami bisa bertahan. Tapi tanpa sekolah gratis, anak-anak kami akan tetap di sawah dan ladang, mengais rezeki diterpahujan dan terbakar terik matahari sama halnyamengulang hidup kami.”

 

 

 

Petugas itu terdiam. Ia membuka mapnya, seakanmencari jawaban di antara lembaran kertas. Di luar balaidesa, Sarinem mengintip dari jendela. Ia tidaksepenuhnya mengerti apa itu program, apa itu anggaran. Ia hanya tahu satu hal: ia ingin terus sekolah. Ia inginbelajar membaca dunia yang lebih luas dari desaberkabut dan terpencil ini.

 

Pak Karsimin berdiri. “Kami tidak menolak perhatian,” katanya lirih. “Kami hanya ingin masa depan. Beri kami papan tulis dan buku, biarkan kami urus piring kami sendiri.” Lihat insan masa depan yang haus wawasanbekal masa depan dalam membangun tanah kelahiran.

 

Kabut mulai terangkat ketika pertemuan usai. Mataharinaik perlahan, menyinari desa kecil yang sederhana itu, desa yang tidak meminta lebih, selain kesempatan untukbelajar dan berharap. Namun bak isapan jempol belaka, rakyat kecil hanya bisa berharap dan bicara, sang penguasa Adalah kunci segala kehiduoan dunia.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait