Rabu pagi, 21 Januari 2026, lapangan SMA YP Unila berubah jadi tempat penuh inspirasi. Poster kampus berjejer, stan informasi berdiri rapi, dan siswa-siswi tampak antusias berkeliling dari satu meja ke meja lain. Di bawah matahari pagi yang bersahabat, mereka bertanya soal jurusan, mencatat peluang beasiswa, hingga berdiskusi tentang rencana setelah lulus SMA. Wajah-wajah penasaran bercampur harapan tampak jelas di antara keramaian.
Melalui Campus Expo 2026, SMA YP Unila kembali menghadirkan kesempatan bagi siswa untuk mengenal dunia perkuliahan secara lebih dekat. Puluhan perguruan tinggi hadir memperkenalkan program unggulan, jalur masuk, hingga gambaran karier di masa depan. Beberapa kampus yang ikut meramaikan acara ini antara lain UBL, BINUS, IPB, UB, Akper Bunda Delima, UI, ITERA, Universitas Teknokrat Indonesia, ITB, Telkom University, Universitas Ciputra Jakarta, UGM, UNPAD, UPH, IIB Darmajaya, Polinela, dan Universitas Saburai.
Bagi banyak siswa, Campus Expo bukan sekadar ajang mencari brosur, tapi juga momen penting untuk mulai menentukan arah hidup. Rara, siswi kelas XII, mengaku mendapat banyak pencerahan setelah mengikuti expo. Awalnya ia bingung memilih jurusan, namun setelah berbincang langsung dengan perwakilan kampus, pilihannya terasa lebih terbuka.
Keseruan Campus Expo tahun ini semakin lengkap dengan peluncuran buku Antologi Opini “Ketika Pena Bertemu Layar”, hasil kolaborasi guru dan siswa SMA YP Unila. Buku ini berisi gagasan, kritik, dan refleksi generasi muda yang ditulis dengan sudut pandang segar dan berani. Salah satu guru pembimbing literasi, Ibu Rosidah, menyampaikan rasa bangganya terhadap karya para siswa. Menurutnya, menulis bukan sekadar tugas, melainkan cara untuk memahami diri sendiri dan dunia sekitar.
Dalam sambutannya, Kepala SMA YP Unila, Ibu Dra. Mey Sriyani, M.M., menegaskan bahwa Campus Expo menjadi bagian penting dari upaya sekolah menyiapkan siswa menghadapi pilihan besar setelah lulus. Ia berharap siswa dapat mengambil keputusan pendidikan berdasarkan informasi yang jelas dan matang. Terkait peluncuran buku, beliau juga menekankan bahwa proses belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga melalui karya dan keberanian menyampaikan ide.
Menjelang siang, suasana lapangan masih ramai. Siswa-siswi terus berpindah dari satu stan ke stan lain, dengan tangan penuh brosur dan kepala dipenuhi rencana. Obrolan soal jurusan terdengar di berbagai sudut. Rafi, siswa kelas XII, mengaku kini lebih yakin dengan minatnya di bidang komputer. Ia baru menyadari bahwa dunia teknologi sangat luas, mulai dari jaringan, bisnis digital, hingga desain, dan hal itu membuatnya semakin tertarik melanjutkan studi ke kampus seperti Telkom University atau BINUS.
