u3-1000085208
Cerita Rakyat Lampung: Keratuan Darah Putih

Keratuan Darah Putih adalah keratuan yang berdiri di Lampung, tepatnya Lampung Selatan. Keratuan ini turut andil pula dalam menyebarkan agama Islam di Lampung.

Dalam sejarahnya, sosok Ratu Darah Putih adalah putra dari Sunan Gunung Jati yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati menjadi Sultan Cirebon, Sunan Gunung Jati melihat pancaran cahaya yang tegak menembus langit. Ia lalu mendatangi sumber cahaya itu, dan ternyata cahaya itu keluar dari Keratuan Pugung Lampung Timur.

Pada saat mendatangi Keratuan Pugung, Sunan Gunung Jati melihat Putri dari Ratu Pugung, yaitu Putri Sinar Alam. Ketika Sunan Gunung Jati mengutarakan maksud untuk menikahi Putri Sinar Alam, ternyata Ratu Pugung menolak pinangan tersebut. Alasannya, putri pertama tidak boleh menikah dengan selain keturunan Keratuan Pugung. Untuk mengobati kekecewaan Sunan Gunung Jati, Ratu Pugung menikahkan putri keduanya dengan Sunan Gunung Jati. Dari pernikahan ini, Sunan Gunung Jati dan putri kedua Ratu Pugung mendapatkan keturunan dan diberi nama Minak Gejala Bidin.

Ketika Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon, beliau kembali melihat pancaran sinar yang terlihat seperti awal mengunjungi Keratuan Pugung. Setelah setahun berlalu, Sunan Gunung Jati kembali mengunjungi Keratuan Pugung dan akhirnya menikahi Putri Sinar Alam dengan persetujuan Ratu Pugung.

Ketika Putri Sinar Alam melahirkan putranya, Sunan Gunung Jati tidak sedang berada di Keratuan Pugung dan anak itu diberi nama Minak Gejala Ratu. Ketika mereka besar dan belum pernah bertemu ayah mereka, keduanya bertanya kepada ibunya tentang ayah mereka. Sang ibu menjawab bahwa ayah mereka adalah Sultan di Cirebon. Keduanya pun berangkat menggunakan perahu untuk menemui ayah mereka.

Di tengah perjalanan, Minak Gejala Bidin merasa cincinnya tertinggal dan menyuruh adiknya kembali mengambilnya. Ketika Minak Gejala Ratu kembali, ibunya mengatakan bahwa cincin itu sudah diselipkan dalam perbekalan. Karena merasa terlalu lama menunggu, Minak Gejala Bidin berangkat lebih dulu ke Cirebon dan disambut ayahnya serta diberi banyak harta, lalu kembali ke Lampung.

Minak Gejala Ratu kemudian berangkat sendiri ke Cirebon. Namun ia tidak diakui karena kakaknya telah lebih dahulu datang. Ia terus berusaha meyakinkan ayahnya. Akhirnya Sunan Gunung Jati berkata, “Jika kamu anakku, maka darahmu berwarna putih.” Minak Gejala Ratu menorehkan padi ke keningnya hingga keluar darah putih.

Setelah itu, namanya diganti menjadi Muhammad Aji Saka dan ia hanya diberi warisan berupa peti kecil. Ayahnya berpesan agar peti itu dibuka di tempat yang terasa paling sesuai di hatinya.

Muhammad Aji Saka kemudian kembali ke Lampung. Ketika membuka peti tersebut, isinya berterbangan dan berubah menjadi pasukan yang setia kepadanya. Dari situlah berdiri Keratuan Darah Putih pada abad ke-15.

Ratu Darah Putih kemudian menikah dengan Putri Sultan Aceh bernama Putri Tun Penatih. Makam Ratu Darah Putih bersama istrinya berada di Keramat Saksi, Kuripan, Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.

Dari Ratu Darah Putih inilah kemudian lahir keturunan yang menjadi pahlawan nasional Lampung, yaitu Radin Inten II.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait