u3-112182
Doaku Karena Retakan

Aku berdiri di ambang pagi yang sunyi,

Mencari makna di balik janji yang kini mati.

Katanya, cinta adalah sabar yang tak bertepi,

Namun mengapa sesak ini seolah tak mau pergi?

 

Dulu kupikir engkau adalah pelabuhan terakhir,

Tempat segala resahku akan luruh dan mencair.

Tapi aku lupa, hati manusia adalah samudera yang berbolak-balik,

Mudah pasang oleh tawa, mudah surut oleh bisik yang pelik.

 

Mungkin aku terlalu mendewakan bayangmu,

Hingga lupa pada la yang meminjamkan nafas padamu.

Bukankah hati ini milik-Nya, yang la titipkan sementara?

Maka hancurnya hatiku adalah cara-Nya memanggilku pulang segera.

 

Kini biarlah sepi ini menjadi sujud yang paling panjang,

Melepasmu bukan berarti aku kalah dalam berjuang.

Sebab cinta yang sejati tidak akan membiarkanku tersesat,

la akan membawaku pada damai yang lebih memikat.

 

Aku belajar menerima bahwa kehilangan adalah guru,

Mengajari rahasia tentang ikhlas yang baru.

Sebab di atas segala rencana yang kupaksa sempurna,

Ada ketetapan-Nya yang jauh lebih indah dari sekadar air mata.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait