u3-113482
Infus di Bulan Ramadan

Suatu sore, sekira pukul empat, cahaya matahari jatuh miring di beranda rumah kecil itu. Angin berembus pelan, membawa aroma gorengan dari dapur tetangga. Di ruang tengah, Naya—enam tahun usianya—rebah di pangkuan ayahnya.

“Ayah… Naya lemas,” keluhnya lirih. Bibirnya sedikit mengerucut. Matanya berbinar, seperti menahan sesuatu antara harap dan takut. “Boleh nggak, puasanya dibatalin aja?”

Aris menatap wajah anaknya yang mulai pucat. Keringat tipis tampak di pelipisnya. Namun ia tersenyum, berusaha tetap tenang.

“Sebentar lagi magrib, Nak. Pahalanya besar sekali kalau Naya kuat sampai azan,” ujarnya lembut, seperti saat ia membisikkan dongeng sebelum tidur.

Naya terdiam. Perutnya berbunyi pelan.

“Kruuuk…”

Suara itu cukup keras di ruang yang sunyi. Naya menunduk malu.

Aris mengusap kepala putrinya. “Ingat waktu sahur tadi? Kata Ayah, orang yang berpuasa itu disayang Allah. Naya kan anak hebat.”

Ia lalu, tanpa sadar, menambahkan kalimat yang berbeda nadanya. “Atika, anak Om Rudi, tahun lalu bisa puasa penuh sebulan, lho. Padahal usianya nggak jauh dari Naya.”

Kalimat itu seperti angin yang tak sengaja membawa debu ke mata. Naya tak menjawab. Ia hanya melenguh pelan. Dalam hatinya, ada perasaan ingin menyerah, tapi juga ingin menjadi “anak hebat” seperti kata Ayah.

Waktu berjalan lambat.

Menjelang magrib, tubuh Naya terasa makin ringan—ringan seperti melayang, tapi juga berat untuk digerakkan. Ia bertahan hingga azan berkumandang. Saat suara takbir dari masjid terdengar, ia tersenyum lebar.

“Ayah… sudah, ya?”

“Iya, Nak. Alhamdulillah.”

Di meja makan, Naya minum es dengan tergesa. Satu gelas, lalu setengah gelas lagi. Ia melahap kolak dan nasi goreng buatan ibunya seperti ingin membalas lapar yang menagih sejak siang. Aris memandangnya dengan bangga.

“Anak Ayah hebat. Puasa penuh!”

Pujian itu membuat Naya tersenyum meski tubuhnya terasa aneh—kepalanya sedikit pusing, perutnya tak nyaman.

Tak lama setelah berbuka, Aris berangkat ke masjid untuk salat tarawih. Masjid itu tak jauh dari rumah, hanya beberapa langkah melewati gang kecil yang dipenuhi anak-anak bermain petasan kertas.

Malam itu, penceramah membawakan tema tentang kewajiban mendidik anak di bulan Ramadan. Suaranya tenang, namun tegas.

“Kita sering bersemangat melatih anak berpuasa,” katanya. “Itu baik. Tapi ingat, yang wajib berpuasa adalah yang sudah baligh. Anak-anak belum memiliki kewajiban. Mereka dikenalkan, bukan dipaksakan. Jangan sampai semangat kita melampaui batas kasih sayang.”

Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu di dada Aris.

“Puasa anak bukan ukuran keberhasilan orang tua,” lanjut sang ustaz. “Setiap anak memiliki kekuatan tubuh yang berbeda. Tugas kita adalah membimbing, bukan membandingkan.”

Membandingkan.

Kata itu menggema di kepala Aris. Ia teringat kalimatnya sore tadi. Terbayang wajah Naya yang menunduk saat nama Atika disebut. Ada perasaan yang pelan-pelan menyusup: sesal.

Usai tarawih, Aris berjalan pulang dengan langkah lebih lambat dari biasanya. Angin malam terasa lebih dingin.

Namun setibanya di rumah, pintu terkunci.

“Rina?” panggilnya.

Tak ada jawaban.

“Naya?”

Sunyi.

Ia mencoba membuka pintu, tapi terkunci dari dalam. Ketika melirik ke rak sepatu, ia melihat kunci cadangan tergeletak. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia membuka pintu dan masuk.

Rumah kosong.

Kamar tidur kosong. Kamar mandi kosong.

Tangannya gemetar saat membuka ponsel. Satu pesan dari Rina masuk tiga puluh menit lalu.

Mas, Naya muntah-muntah dan badannya panas. Aku bawa ke klinik dulu.

Belum sempat ia mencerna isi pesan itu, notifikasi lain masuk.

Kata dokter, Naya harus dirujuk ke rumah sakit. Sepertinya dehidrasi.

Dunia seperti meredup.

Aris bergegas menuju rumah sakit. Di ruang IGD yang berbau antiseptik, ia melihat Naya terbaring kecil di ranjang, tangannya dipasangi infus. Wajahnya pucat, bibirnya kering.

Rina berdiri di sampingnya, mata sembab.

“Dokter bilang dehidrasi dan ada infeksi saluran kemih,” bisik Rina. “Tubuhnya kekurangan cairan. Tadi dia juga makan terlalu banyak setelah seharian kosong.”

Aris tak sanggup menjawab. Ia mendekati ranjang dan memegang tangan kecil itu. Dingin.

“Naya…” suaranya pecah.

Kelopak mata Naya terbuka perlahan. “Ayah… Naya kuat, kan? Naya hebat?”

Pertanyaan itu seperti pisau yang menoreh tanpa suara.

Air mata Aris jatuh untuk pertama kalinya di depan anaknya.

“Iya, Nak. Tapi Ayah yang nggak hebat.”

Ia teringat kembali isi ceramah. Bahwa anak belum diwajibkan berpuasa. Bahwa membandingkan adalah bentuk ketidakadilan yang halus. Bahwa keberhasilan orang tua bukan diukur dari seberapa cepat anak menanggung beban, tetapi seberapa bijak ia melindungi.

Malam itu, di kursi rumah sakit yang keras, Aris duduk dengan kepala tertunduk. Ia menyadari sesuatu yang pahit: ia memaksa bukan semata karena ingin mendidik, tetapi karena ingin merasa berhasil. Ingin bangga saat berbincang dengan teman-temannya. Ingin tak kalah oleh cerita tentang anak orang lain.

Ia lupa bahwa setiap anak memiliki tubuh dan waktunya sendiri.

Keesokan paginya, kondisi Naya mulai membaik. Dokter memperbolehkan pulang setelah beberapa hari perawatan.

Di perjalanan pulang, Aris menggenggam tangan Naya.

“Ramadan besok, Naya nggak harus puasa penuh,” katanya lembut. “Kita belajar pelan-pelan saja. Setengah hari pun cukup. Yang penting sehat.”

Naya tersenyum tipis. “Kalau Naya capek, boleh bilang ya?”

“Harus bilang,” jawab Aris. “Ayah mau dengar.”

Langit siang itu cerah. Ramadan masih panjang, tetapi Aris tahu, pelajaran terpenting bukan tentang menahan lapar—melainkan menahan ego.

Dan sejak hari itu, ia tak lagi membandingkan. Ia belajar bahwa cinta yang benar bukan tentang memaksakan ketahanan, melainkan memahami batas.

 

 


 

 

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang di tunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam. Bulan ini merupakan bulan yang penuh berkah, serta siapapun yang melakukan kebaikan di bulan suci ramadhan maka pahala nya akan dilipatgandakan dari pahala di bulan-bulan biasa. 

Ramadhan juga merupakan bulan yang dimana seluruh umat Islam melakukan ibadah puasa. Ibadah puasa merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh seluruh umat muslim dan muslimah.

Dalam cerpen yang berjudul “Infus Dibulan Ramadhan” menceritakan sebuah keluarga yang dimana sedang melakukan ibadah puasa. Naya merupakan seorang anak yang berusia 6 tahun. Dirinya didapati sudah bisa menjalani ibadah puasa walaupun umurnya terbilang masih kecil. Dalam cerita tersebut Naya berusaha keras untuk menahan lapar walaupun ia sedikit mengeluh karena sebenarnya ia tak sanggup menahan haus dan lapar, akan tetapi ayahnya meyakinkan ia bisa melanjutkan ibadah puasa tersebut sambil membandingkan anak temannya yang bisa berpuasa full. Mendengar adanya pembanding antara dia dan anak teman sang Ayah, dirinya pun berusaha keras tetap menahan lapar dan lemas agar dapat menjadi “anak hebat” seperti yang diinginkan ayahnya. Akan tetapi disaat sang Ayah tarawih dan mendengarkan ceramah dari penceramah, disana ia baru sadar bahwa dirinya telah memaksakan sang anak untuk berpuasa, padahal sang anak masih terbilang kecil dan belum baligh. Ia juga sadar terlalu memaksakan ego nya tanpa memikirkan kondisi sang anak. 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait