u3-Capture_20260326_235526
Internalisasi Nilai-nilai Piil Pesenggiri; Sebuah Upaya Pembentukan Karakter

Internalisasi Nilai-nilai Piil Pesenggiri; Sebuah Upaya Pembentukan Karakter

Hazizi

Apa yang akan terjadi jika bangsa Indonesia terus menerus mengalami degradasi moral dan karakter? Akankah cita-cita Indonesia Emas di tahun 2045 dapat terwujud? Pertanyaan tersebut adalah sikap skeptis yang muncul di tengah fenomena yang terjadi saat ini. Beberapa waktu lalu misalnya, kita mendapati sebuah berita tentang tentang bullying, tawuran, hate speech dan lain-lain. Hal tersebut meninjukkankan betapa pentingnya pendidikan karakter pada siswa khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Pendidikan karakter telah menjadi isu penting dalam dunia pendidikan modern. Seiring dengan perkembangan masyarakat global yang semakin kompleks, kebutuhan akan individu yang memiliki karakter yang kuat dan etika yang baik semakin mendesak. Pendidikan karakter bukan sekadar tentang mengajar siswa bagaimana berpakaian dengan rapi atau berbicara dengan sopan, tetapi lebih jauh dari itu, pendidikan karakter adalah upaya untuk membentuk moral, nilai-nilai, dan etika yang akan membimbing tindakan-tindakan individu dalam kehidupan sehari-hari.
Karakter bukanlah sesuatu yang dapat diukur dengan angka atau dicetak dalam sertifikat, tetapi karakter mencerminkan esensi ‘siapa kita’ sebagai individu. Ini mencakup nilai-nilai seperti kejujuran, integritas, empati, tanggung jawab, rasa hormat, kerjasama, ketekunan, dan masih banyak lagi. Pendidikan karakter memberikan landasan moral yang kuat bagi siswa, membantu mereka membuat keputusan yang baik, serta memahami dampak dari tindakan mereka terhadap diri mereka sendiri dan masyarakat.
Pentingnya Pendidikan Karakter
Mengapa pendidikan karakter menjadi begitu penting dalam pendidikan modern? Pertama-tama, karakter yang baik adalah aset yang tak ternilai dalam kehidupan seseorang. Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah, memiliki empati terhadap orang lain, dan berperilaku dengan integritas adalah kualitas yang dicari oleh berbagai institusi, termasuk tempat kerja dan perguruan tinggi. Kedua, karakter yang baik dapat memberikan fondasi yang kokoh bagi hubungan yang sehat dan positif dalam masyarakat.
Pendidikan karakter juga memiliki peran krusial dalam membentuk kepribadian siswa. Melalui pendidikan ini, mereka belajar untuk menghadapi tantangan dengan tangguh sehingga tidak meudah menyerah dan putus asa. Mereka juga dapat mengelola konflik secara positif, dan tumbuh menjadi pemimpin yang beretika serta menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Fokus pendidikan karakter tidak hanya mencetak individu yang unggul secara akademis, tetapi juga yang memiliki kehidupan bermakna. Sederhanya, dalam menciptakan manusia yang unggul, negara Indonesia tidak hanya membutuhkan siswa atau masyarakat yang cerdas tetapi harus diiringi dengan kejujuran dan keberanian. Untuk apa memiliki siswa yang cerdas tetapi bermental culas atau untuk apa memliki pemimpin yang adil tetapi pengecut dan tidak pemberani. Sebagaimana yang dikemukan sebelumnya bahwa permasalahan bangsa kita semakin hari semakin kompleks, sehingga penting bagi negara Indonesia memiliki masyarakat yang memiliki karakter yang kuat sebagaimana yang telah dirumuskan oleh kemendiknas.

Meniti Jalan
Salah satu pendekatan yang menarik dan relevan dalam pendidikan karakter adalah melalui pemanfaatan budaya lokal. Budaya lokal dalam hal ini adalah budaya Lampung mencerminkan warisan, nilai-nilai, dan tradisi yang dimiliki oleh suatu komunitas atau masyarakat. Budaya ini mencakup falsafah hidup, cerita rakyat, nilai-nilai spiritual, norma sosial, bahasa, seni, dan praktik-praktik keseharian yang telah terbentuk selama berabad-abad. Budaya lokal bukan hanya sekedar elemen dekoratif dalam kehidupan sehari-hari, melainkan sumber yang kaya untuk membentuk karakter individu.
Internalisasi pendidikan karakter melalui pemanfaatan budaya Lampung sebagai alat pembentukan karakter yang efektif dalam pendidikan formal. Budaya Lampung dapat digunakan sebagai sarana untuk mengajarkan nilai-nilai, etika, dan moral kepada siswa, dan bagaimana hal ini dapat memengaruhi perkembangan karakter mereka. Pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara pendidikan karakter dan budaya Lampung akan membantu kita mengembangkan pendekatan pendidikan yang lebih relevan dan berarti bagi generasi masa depan.
Sebuah Tawaran
Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam menanamkan nilai-nilai karakter adalah dengan memperkenalkan falsafah hidup orang Lampung yaitu Piil Pesenggiri. Falsafah ini telah lama hidup dan berkembang pada Masyarakat Lampung. Piil pesenggiri bukan sekedar norma tapi sebuah nilai yang hidup melekat pada jati diri ulun Lampung. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Profesor Farida Ariyani dalam bukunya Konsepsi Piil Pesenggiri menurut Masyarakat Adat Way Kanan bahwa Piil Pesenggiri di junjung oleh empat pilar utama yaitu; Bejuluk Buadek, Nemuy Nyimah, Nengar Nyampogh dan Sakai Sambaian
Bejuluk buadek diartikan secara sederhana oleh masyarakat Lampung sebagai sebuah ‘gelar’ yang dimiliki oleh masyarakat adat Lampung. Namun hakikat bejuluk beadok adalah sebagai proteksi diri dari perbuatan tercela. Misal, seseorang bernama Agus memiliki potensi untuk melakukan perbuatan tercela, oleh karena ia sehari-harinya dipanggil dengan sebutan suntan atau kanjeng Agus akhirnya ia menjaga diri dari perbuatan tercela tersebut demi menjaga harga dirinya sebagai seseorang yang memiliki adok/gelar. Melalui pemahaman ini maka dapat dipastikan bahwa siswa dapat memiliki karakter yang baik karena ia selalu berusaha menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang melanggar norma.
Nemui nyimah adalah bertamu atau bersedekah, artinya masyarakat Lampung senang berkunjung satu sama lain dan suka berbagi dengan sesama. Namun hakikat dari nemui nyimah adalah menebar kasih sayang. ‘Aktivitas’ saling berkunjung dan berbagi itu haruslah menciptakan rasa kasih sayang, karena tidak bernilai kegiatan tersebut, jika tidak menumbuhkan rasa kasih sayang antar sesama. Rasa kasih sayang akan menjadi modal dalam menjalani kehidupan antar sesama, sehingga dapat mencegah permusuhan pada masyarakat.
Nengah nyampogh adalah sikap dan tindakan suka berbaur atau suka bersosialisasi. Namun muara dari pilar ini adalah menumbuhkan sikap tolerasi atau menerima perbedaan. Dengan seringnya berbaur satu sama lain masyarakat semakin mengerti karakter masing-masing sehingga menumbuhkan rasa menerima perbedaan. Ketika di dalam diri seseorang telah tumbuh sikap tersebut dapat dipastikan bahwa perbuatan buruk seperti suka membuly, menghina berkata kasar terhadap orang lain tidak akan terjadi.
Sakai sambaian diartikan sebagai kebiasaan bergotong royong yang dilakukan masyarakat Lampung. Prinsif dari falsafah ini adalah terciptanya rasa kesatuan dan persatuan. Dalam beberapa moment upacara adat, masyarakat Lampung melaksakannya secara bersama-sama. Hal tersebut menunjukkan kekompakan dan kerjasama. Masing-masing pihak seolah telah mengerti akan peran dan posisinya masing-masing. Oleh dasar tersebutlah, sebuah acara dapat terselenggara dengan baik. Kita bisa membayangkan seandainya dalam peran-peran adat ada yang mengedepankan ego pribadi maka kegiatan tersebut tidak akan berjalan dengan lancar. Melalui tumbuhnya kesadaran persatuan dan kesatuan maka dapat mencegah masyarakat dari tindakan-tindakan perselisihan seperti tawuran dll.
Melalui pendekatan Piil Pesenggiri, nilai-nilai karakter dapat diinternalisasi secara lebih mendalam. Falsafah ini bukan sekadar pengetahuan, tetapi telah menjadi nilai hidup masyarakat Lampung yang dapat diaplikasikan dalam tindakan nyata. Dengan memahami dan menerapkan konsep ini, kita dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral. Mari kita jadikan Piil Pesenggiri sebagai pijakan dalam membangun karakter bangsa yang bermartabat.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait