u3-Capture_20260326_233611
Mengenang Sahabat “Surat dari Jauh”

Mengenang Sahabat “Surat dari Jauh”

Ditulis oleh Teman Karib Hazizi

Untuk Sahabatku,

Semoga Allah senantiasa memberkahi dan memberikan kabar yang sehat Kepadamu kawan.. aamiin.. dan aku sendiri di kota hujan yang sesak dengan ribuan angkot ini Alhamdulillah selalu dalam lindungan-Nya.
Untukmu, wahai sahabatku Hazizi, yang tengah juga berjuang jauh disana. Mungkin bagimu terlalu berlebihan bilamana aku mengungkapkan, bahwasanya diri ini rindu terasa amat sangat kepadamu wahai sahabatku. Sungguh, belumlah lama kita sempat bersua. Tapi, wahai kawan.. bukanlah itu yang membuatku rindu padamu teramat sangat, melainkan memori yang pernah terisi oleh kebersamaan kita dulu, semasa aku dan engkau mulai saling berkenal.
Tak sanggup aku mengenangkannya semua di atas tuts-tuts kehidupan ini. Meskipun jari-jemariku menari-nari di atas deretan-deretan hurup-hurup dan angka-angka keyboard ini, juga aku tak sanggup menuangkannya semua kawan.
Aku hanya ingin mengisahkan beberapa baris saja tentang kita. Semoga  aku juga mampu menyelipkan beberapa kisahku di sini, di kota hujan, di BOGOR KOTA BERIMAN ini. Iya, di bogor kota beriman ini, di kota yang telah menyeret aku kepada pertualangan hidup yang keras, melebihi kerasnya Granit-granit yang tercipta berpuluh-puluh bahkan berates-ratus tahun lamanya.
Kawan, ingatkah dulu pertama kali sebab musabab persahabatan kita, persahabatan yang membuat iri orang-orang ramai yang tahu akan semua itu. Bahkan mungkin saja para raja-raja yang terdahulu pun juga merasakan iri yang tidak kalah hebatnya.
Seingatku, ketika itu aku sedang merasakan kebodohan arah, kebodohan dalam mengejar nafsu, kebodohan batin yang membius nauri hati yang suci, padahal engkau pun tahu bahwa hati ini selalu di basuh dengan tetesan air wudhu setiap kala. Tapi aku tak bisa mungkir dari segaris kisah itu, karena lantaran itu juga aku mempunyai pertualangan yang hebat dengan engkau wahai sahabatku.
Waktu itu perasaan hatiku terkendali oleh cinta manusia, cinta kepada seorang wanita bergaris keturunan chines, engkaupun tahu namanya, sehingga tidaklah perlu aku sebutkan. Di kala bunga dalam hati sedang berkembang indah mempesona, ntah mengapa setiba itu pula airmata yang lebih sering menyiraminya, ku kira hanya sementara ternyata terus menerus sampai bunga itu layu di buat olehnya, bahkan pada akhirnya mati sampai keakar-akarnya.
Nah, kondisi hati yang seperti itulah, aku bertemu dengan kau, tepatnya adalah di jalan pertigaan way kamal,  jalan kearah menuju pekonmu. Aku sedang berhenti sejenak, yang hati dan pandangan ku tidak satu sama tujuan.  Tiba-tiba kau datang dari arah kotaagung mengendarai sepeda motormu, berhenti, dan menyapa. Tak begitu banyak kalimat yang terucap, baik aku dan juga engkau. Aku juga tidak menyampaikan perasaan hatiku. Namun Ntahlah kawan, serasa-rasanya dari situlah yang aku ingat, sabab musabab persahabatan yang berkekalan ini yang juga pada akhirnya menyeret kerinduanku padamu hari ini. Padahal sebelumnya kita telah banyak berjumpa bukan?. Tapi, seolah bagaikan bunga yang jatuh begitu saja di sapa angin. Indah tapi terabaian.
Di hari selanjutnya, kita berjumpa di sekolah, engkaupun seolah ringan menawarkan pulang bersamamu. Padahal arah rumah kita berbeda, pastilah harus dengan unsur kesengajaan bilamana hendak mengantarkan aku. Hatiku terasa begitu damai denganmu, ntah apakah engkau juga begitu?. Yang pasti kedamaian hati itu akan timbul apa bila ia menemukan hati yang se-frekuensi, setara dan searah.
Kendaraan yang kau kendalikan melaju dengan santai, melintasi jalan inchi demi inchi. Di atas dua roda itu kita banyak bercerita, dan aku seolah terbius melupakan tugas-tugas membantu orang tuaku di pematang, seperti kebiasaanku setiap hari sepulang sekolah. Dari sanalah pertemuan kita.
 Lalu di perteguh oleh adanya keseringan kita bermain futsal di kampungku, dan terlebih-lebih ketika ada sayembara futsal antar kampong,  engkau pun berjuang membela klub kampong kami, aku ingat nama klub itu, CAHAYA GADING. Engkau, karena kelihaian dan kepandaianmu bermain futsal maka sepakatlah pemuda-pemuda kampong kami menempatkan posisimu sebagai penyerang di klub cahaya gading A. wah, beberapa kali bola yang melepas dari kakimu melesat kegawang lawan. Namun sebegitu pulalah kurangnya keberuntunganmu membela klub cahaya gading A, semua orang yang menyaksikan dari luar lapangan di buatnya terpana olehmu. Sementara aku, aku posisi sebagai kiper atau penjaga gawang, aku membela cahaya gading B, tapi nahas, keberuntung kami gondol, sehingga kami melaju kebabak selanjutnya.
Terlepas dari futsal, ada satu hal juga yang selalu mengingatkan aku tentang engkau yaitu, dimana kita sering makan bakwan bersama di way kamal.
Aku rasa tidaklah berlebihan kebersamaan kita, toh kita juga masih sempat membantu orang tua kita kesawah dan kepematang.
Yang pasti telah banyak kalimat-kalimat yang kau serap dariku, pun jua dengan sebaliknya, aku juga telah banyak menyerap kalimat-kalimat kehidupanmu. Banyak pula artepak-artepak yang telah kita sematkan sebagai tempat keseringan kita bersama.
Dari situlah aku mengenal arti dari makna persahabatan. Tak perlu kita mencari kemana ia berada, cukup kita membuka akan kehadirannya.
Sungguh kawan, aku bukanlah seorang sastrawan, yang ketika melontarkan kalimat terasa indah dan mengalir. Tapi aku masih sama seperti dulu sahabat, si Soni yang selalu memelihara mimpi-mimpi, meskipun aku tahu mimpi-mimpiku itu sudah mulai retak, tapi aku tak patah arang, keyakinanku masih menggelora dalam jiwa, sekalipun setianya gunung tanggamus mengulam masa demi masa takkan mampu mengalahkan semangatku, seorang anak yang sudah payah sejak lahir, seorang anak yang sudah di landa kemalangan dan kemalaratan pula dari sejak lahirnya, biarkan airmata yang akan mengawal, menjadi saksi lakon hidupku menuju ujung sampai kehidupan yang belum kita ketahui akannya.
Sahabatku, engkau pulalah yang secara tak langsung mengajakku berlari, berlari sambil memikul beban yang amat berat, nanti akan aku ceritakan bagian yang ini ketika nanti masanya telah tiba.
Kawan, aku sering kali terjatuh, tapi aku memilih untuk bangkit lagi dan lagi, bahkan kaki anugerah Ilahi ini sempat tak mampu lagi untuk berdiri, menopang tubuh yang berbeban ini, namun dengan segala daya aku himpun kekuatan, dan aku bangkit lagi. Dulu engkau pernah berkata, kekuatan bukan terletak pada fisik tapi kekuatan itu dari hati, hati yang mengangkat semua beban-beban kita.
Kawan, di kampus tarbiyah ini aku telah menemukan juga banyak sahabat, bahkan keluarga. Sama.. sama seperti kau dan aku. Merekalah yang membantu aku menopang beban-beban yang berat itu kawan, merekalah yang mengikhlaskan pundaknya untuk ku pakai, se-aku butuh. Mereka jugalah yang selalu menolong, menarik tubuhku untuk tegak kembali, membangunkan aku yang terjatuh. Tidaklah aku mampu menyimpan kesyukuran ini dalam kesendirian kawan, dan aku ingin engkaupun tahu.
Kawan, sementara cukup sampai disini kalimat yang aku sampaikan kepadamu, sudilah luangkan waktumu untuk berbagi pula kisahmu disana, aku nak ingin merasakan perjoanganmu disana pula. Kunantikan kawan.
Semoga nanti, sekiranya Allah mengizinkan perjumpaan kita dalam masa dan ruang yang terkenang baiknya… aamiin..                                    
Sahabatmu, Senja.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait