Tahun 2016 adalah tahun di mana semuanya terasa lebih sederhana.
Belum ada ambisi besar. Belum ada jarak yang terlalu jauh. Yang ada cuma tugas matematika, drama kelas, dan rahasia kecil yang disimpan rapat-rapat.
Raka, Sinta, Arlo, dan Naya selalu duduk di tangga belakang gedung sekolah setiap jam istirahat. Tempat itu panas, berdebu, dan sering ditegur guru. Tapi di sanalah mereka merasa dunia milik mereka sendiri.
Raka suka menggambar di buku tulisnya, diam-diam membuat sketsa wajah seseorang yang duduk tak jauh darinya.
Sinta selalu cerewet soal nilai dan masa depan, tapi diam-diam takut kalau setelah lulus nanti, semuanya berubah.
Arlo si paling santai, yang bercita-cita jadi musisi, meski ayahnya ingin ia masuk kedokteran.
Dan Naya—yang selalu tertawa paling keras, seolah hidupnya baik-baik saja.
Padahal tidak pernah sesederhana itu.
Suatu sore, hujan turun tiba-tiba. Mereka terjebak di kelas karena belum dijemput. Lampu sudah dimatikan, sekolah hampir kosong.
“Apa kita bakal tetap begini lima tahun lagi?” tanya Sinta tiba-tiba.
Raka berhenti menggambar.
Arlo mendengus pelan. “Lima tahun? Minggu depan aja kita belum tentu masih duduk bareng.”
Naya hanya menatap ke luar jendela, melihat hujan yang membuat lapangan sekolah tampak seperti lukisan buram.
“Kalau nanti kita jauh,” katanya pelan, “aku harap kita tetap ingat hari ini. Ingat kalau pernah ada masa di mana masalah terbesar kita cuma nilai ulangan dan siapa yang suka siapa.”
Semua tertawa kecil.
Tapi diam-diam, masing-masing tahu—perasaan itu nyata.
Raka menyukai seseorang yang terlalu dekat untuk diungkapkan.
Sinta takut kehilangan lebih dari sekadar teman.
Arlo ingin bebas, tapi takut mengecewakan.
Dan Naya… takut ditinggalkan lebih dulu.
Hari kelulusan datang lebih cepat dari yang mereka kira.
Foto bersama di depan gerbang sekolah jadi bukti bahwa mereka pernah berada di titik yang sama, di waktu yang sama.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada pengakuan dramatis.
Hanya pelukan canggung dan kalimat, “Jangan lupa kabarin, ya.”
Tahun-tahun berlalu.
Grup chat makin sepi.
Balasan makin singkat.
Tapi setiap kali hujan turun, atau lagu lama diputar tanpa sengaja, kenangan itu datang lagi—tentang tangga belakang sekolah, tentang tawa yang tidak dibuat-buat, tentang cinta yang tidak pernah benar-benar diucapkan.
Tentang saat kita masih lima belas.
Saat dunia belum terlalu rumit.
Dan hati belum terlalu pandai menyembunyikan rasa
